Selasa, 05 April 2016

Goresan Hati

kau yang pernah singgah dihidupku
aku tau saat ini kau pasti membenciku
menilaiku dengan sangat rendah
atau bahkan mungkin kau lebih memilih untuk hilang ingatan agar kau tidak lagi mengenalku

membawaku ke dalam duniamu pasti tidak mudah kan?
meninggikan aku atas apapun yang ada dihidupmu itu pun tidak mudah kan?
tapi kau melakukan itu semua dengan cara yang halus hingga aku tidak merasa telah berada di dalamnya

kau mengunciku dengan segala perbuatanmu
ruang yang kau buat begitu sempit dan dingin
membuatku tidak bisa bergerak dan bernapas
ketika itu, aku rindu dunia luar

aku berusaha sekuat tenaga untuk keluar
menepis ruang yang kau berikan untukku
aku ingin bernapas
tapi apakah itu semua akan menyakitimu?
aku yakin pasti kau akan meng-iyakan-nya-kan?

kunci yang kau gunakan untukku
mungkin tidak terlalu kuat untuk di hancurkan
tapi sihir yang kau tanamkan pada hidupku begitu kuat
hingga aku tak tau arah kemana yang benar di dunia yang luas ini

aku buta..
aku kehilangan arah..
biarpun aku ingin kembali tapi ruang yang kau buat sudah tak nampak lagi
aku hanya bisa berjalan mengikuti arah angin yang berhembus
tanpa ku tau kemana ia akan membawaku pergi

−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−

RIRI

Rabu, 01 Juli 2015

Untukmu, yang Selalu Datang dan Pergi Semaumu



Halo, apa kabar? Apa kau baik-baik saja? Terkadang kita tidak bisa memaksakan sesuatu apalagi itu hanya untuk keinginan pribadi. Aku sadar, aku telah melakukan kesalahan di masa lalu. Mengabaikan seseorang yang telah membuka hatinya untukku, dan lebih memilih kembali padamu. Sejujurnya akupun tidak menginginkan hal ini terjadi.

Perkenalan singkat yang tak terduga


https://setipe.com/advice/memulai-langkah-baru/terbukti-berhasil-10-cara-ampuh-mengajak-orang-kenalan-part-2

Kau ingat saat pertama kali kita berkenalan? Aku sangat ingat itu. Saat itu kau melakukannya terlebih dahulu. Dengan aplikasi media sosial yang menjamur di ponsel pintar, kau menemukanku dan memulai untuk berkenalan. Dengan ringannya aku pun membalas perkenalanmu.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan kita saling mengenal, berkomunikasi dengan media sosial yang berperan besar pada perkenalan kita untuk pertama kalinya, aku merasa nyaman. Bukan karena aku mudah menyukai seseorang, tapi aku merasa nyaman saat kita saling berkomunikasi satu sama lain walaupun itu bukanlah sesuatu yang penting. Tapi aku merasa nyaman, mungkin sebagai teman.

Kau berikan perhatian yang tidak biasa hingga membuat hatiku luluh namun, kita tidak berteman, tapi juga bukan pasangan kekasih




https://12n92.wordpress.com/2012/10/09/ttm-hts-kah/

Kita berteman kan? Aku selalu berpikir seperti itu. Namun sikapmu menunjukkan lebih dari itu. Perhatianmu yang tersirat dalam setiap sikapmu membuat jantungku berdegup tak karuan. Aku selalu meyakini bahwa kita memang berteman, tapi pada akhirnya dinding pertahananku perlahan melemah. Sikap perhatianmu pada setiap hal-hal kecil mengenai diriku membuat hatiku luluh. Menyadari itu, aku memberanikan diri untuk bertanya mengenai sikap-sikap itu kepadamu. Tapi kau hanya tersenyum simpul.
Setiap hari rasanya tidak kita lalui tanpa saling berkiriman pesan. Hubungan kita semakin dekat dan kau pun sesekali datang kerumahku dengan alasan:
“aku ingin bertemu kamu”
Oh, betapa senangnya hatiku hanya mendengar kata-kata itu dari mulutmu. Tapi aku pun sedih karena kau tak kunjung menyatakan perasaanmu dengan jelas dan meminta aku untuk menjadi pasanganmu seperti wanita dan pria lain yang sering aku lihat ketika mereka mengikrarkan untuk menjadi pasangan. Hubungan kami lebih dari pertemanan biasa, tapi kami pun bukanlah sepasang kekasih. 

Waktu yang terasa cukup lama, namun berakhir menyedihkan


 
http://unosites.blogspot.com/2013/07/cerita-sedih-tentang-cinta-cinta-pertama.html

Sudah berapa lama kita telah menjalani hubungan seperti ini? Aku tidaklah berbeda dengan wanita lain yang ingin memiliki kejelasan dalam berhubungan. Pada akhirnya kau mengatakan bahwa kau sayang kepadaku dengan jelas. Sejak saat itu kita resmi menjadi pasangan.
Sesekali aku membuat percobaan masakan hanya untuk menyenangkanmu, memberikanmu makan siang ketika kau di kantor, semua itu aku lakukan dengan senang hati. Walaupun aku ragu apakah masakanku terasa enak atau tidak, tapi kau selalu bilang:
“masakanmu enak, aku habiskan ya!”
Hubungan kita berjalan cukup lama, tapi kau masih terlalu menutup diri padaku. Aku tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padamu sampai ketika kau menghilang. Setelah kita melalui waktu yang cukup lama, mengapa ini berakhir menyedihkan? Terkadang aku memikirkan apakah aku telah membuat kesalahan, sampai akhirnya aku tak berhasil menemukanmu dan aku beranikan diri untuk mengirim pesan bahwa aku ingin (dengan terpaksa) mengakhiri hubungan ini. Kau pun diam tanpa membalas apapun.

Kedatanganmu kembali membuat usahaku sia-sia untuk melupakanmu




 https://anzielova.wordpress.com/2013/07/21/belum-bisa-move-on/
Berbulan-bulan aku menunggumu hanyalah sebuah kesia-siaan. Kau tetap diam tak bergeming di persembunyianmu. Dengan diamnya dirimu, aku mengartikan bahwa kau menyetujui menyudahin hubungan ini. Aku pun kembali menjalani hari-hariku seperti biasa. Sampai ketika aku menemukan hati yang lain untuk bersandar. Ia datang dengan segala kehangatannya. Aku tak yakin apa aku sudah bisa melupakan apa yang terjadi di masa lalu atau belum, tapi seseorang pernah berkata bahwa:
“lupakan cinta dengan cinta”
Seperti tak lelah, ia terus membawaku keluar dari keterpurukanku dan memberikan harapan baru untukku.
Ketika aku mulai menyembuhkan kembali hatiku yang telah terluka, tiba-tiba kau datang memasuki kembali hidupku. Sejauh ini aku sudah berusaha untuk tidak melihat dan berharap pada masa lalu, aku pikir aku telah berhasil, tapi kedatanganmu membuat semua itu sia-sia. Hati kecil yang tidak bisa kubohongi tanpa kusadari masih mengharapkanmu. Melepaskan orang yang sangat tulus menyayangiku dan memilih untuk kembali kepadamu memang hal yang egois tapi akupun tak kuasa membohongi perasaan ini.  

Hingga aku sadari bahwa kau datang dan pergi semaumu tanpa mempedulikan aku yang rela terluka




 http://aguskusuma.blogdetik.com/mutiara-kata/makna-cinta-yang-sesungguhnya/

Kita kembali bersama menjalani hubungan ini. Kau yang kini telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, meyakinkanku bahwa kau tak akan lagi meninggalkanku dan menjanjikan bahwa aku adalah masa depanmu.  Sirat matamu pun seakan berkata itu juga kepadaku.
Sekian lama kita berjalan, pada akhirnya kini kau pun pergi lagi seperti saat itu. Tanpa sebab yang aku tahu, kau melakukannya lagi. Kini aku pun tak tahu harus kearah mana. Rasa sedih, kecewa, menyesal, dan tak percaya memenuhi ruang hati ini. Kau datang dan pergi semaumu tanpa kau pedulikan aku yang rela terluka hingga hari ini. Semoga cukup hanya aku saja yang kau perlakukan seperti ini.


----------------------------------------------------------------------------------------

I just shared this story to Hipwee.com

Sabtu, 27 Juni 2015

Sesuatu yang Hilang

Apa yang aku cari?
Apa yang engkau cari?
Semua terasa hanya berputar diam di tempat
Segalanya bergerak semakin menjauh

Ketika semua  menjauh
Kita baru akan menyadari
Betapa pentinya hal itu
Namun, bukankah itu sudah telat?

Satu per satu
Semua hilang tak berbekas
Bahkan jejaknya pun itu
Hilang bersama angin menuju peraduannya

Akankah hal itu kembali?
Seperti sebuah reinkarnasi kehidupan
Sesuatu akan kembali..
Meskipun dalam bentuk yang lain

Andai saja hal itu kembali
Apakah masih dalam rasa yang sama?
Kemanakah hal itu pergi?

Sabtu, 30 Agustus 2014

Rasa yang Sama

mata itu..
hari ini ku melihatnya lagi..
tatapan hangat seperti dulu
membuatku terpaku membisu..

mengapa engkau hadir kembali?
membuatku merasa tak karuan
ternyata aku tak berhasil..
kenangan itu tak berhasil kuhapuskan..

menyusun kembali hati yang telah rapuh..
mencari seseorang untuk menggantikanmu..
membuka mata dan hati ini melihat dunia luar..
namun tetap saja bayang-bayang dirimu menghantuiku..

terlalu banyak rahasia dalam diriku..
yang tak mungkin orang lain tau..
rahasia yang sulit untuk aku ungkap..
apa aku boleh menyimpan semua rahasia ini selamanya?

ku tak ingin orang lain sakit..
cukup diriku saja yang merasakan sakitnya..
memendam rahasia ini
membenamkan pula rasa sakit dalam diri ini..

−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−

original by Riri✯

kau

saat aku sendiri menapaki bumi ini dalam sunyi..
saat aku hanya bisa melihat mu seorang..
saat aku merasa sangat berharap..
dan saat diri ini tenggelam dalam sepi..

kau..

tak bisa melihat diri ini..
kau mengacuhkanku..
perlahan kau pergi..
meninggalkanku seorang diri..

ku tetap menunggu..
ku terus menanti..
di tempat ini..
cintaku tak termakan oleh waktu..

kau..

masih tidak menyadarinya..
tidak kah kau berpaling kepadaku?
sadarilah keberadaan ku..
ku masih disini menantimu..

kau..

membiarkanku berdiri sendiri tanpamu..
seakan melupakan ingatan itu..
kau hilang bersama angin..
dan kudapati diri ini terkulai lemah..

seseorang datang membawa harapan..
dipeluk erat diri ini..
dalam kehangatan tubuhnya..
ku menangis..

Tuhan..

apakah aku berdosa?
apakah aku bersalah?
masih memiliki rasa itu..
disaat aku berada dalam posisi seperti saat ini..

betapa jalang diri ini yang tak tau berterimakasih..
betapa nistanya diri ini yang menghancurkan harapan..
betapa kejamnya diri ini yang sanggup membohongi..
dan betapa licik diri ini yang ternyata masih memiliki perasaan itu..

maaf..
maafkan aku..
maafkan diri ini yang tak sempurna..
maafkanlah cinta yang salah ini..

tunggu..
apakah cinta sebuah kesalahan?
suatu hari nanti..
cinta akan menemui jalannya untuk pulang kerumah..

−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−

original by Riri✯

Kamis, 12 Juni 2014

Mahal Kita

Rintik hujan yang terdengar jelas dari kamar sunyiku... bersama dengan sebuah alunan musik yang terdengar harmoni di telingaku saja, air mata ini mengalir dari pelupuk mataku yang tak bisa membendungnya. Aku berpikir apakah aku sudah salah melangkah, ataukah aku hanya terlalu lemah untuk menghadapi sebuah kenyataan? Sayang kristal-kristal bening ini tak bisa menjawabnya..

Semua tentang hujan, tentang kebersamaan kita dibawah langit yang sedang menangis. Hingga tidak merasakan angin dingin yang merasuk ke dalam tulang. Melihat sosoknya dari belakang yang basah oleh hujan, dalam benakku ‘ialah masa depanku’. Air mata ini kembali mengalir dipipi. Sosok dalam hujan itu perlahan memudar, dan hilang. Terbawa angin dingin entah kemana. Membuatku buta, membiarkanku hilang tanpa arah hingga ku tak tau harus kearah mana untuk mengejarmu... tak sama sekali kudapatimu, walaupun aku harus terbentur apapun yang berada didepanku. Hanya sebuah kesia-siaan.

Alunan musik ini masih tetap setia menemani hujan ataukah hujan yang senantiasa ingin bersamanya? Ku tak tau.. yang ku tau hanyalah sebuah kesetiaan mereka. Kesetiaan yang tak pernah membohongi siapapun yang menikmatinya.


credit pict: @monqkq


Sabtu, 19 April 2014

Cerita Penyiksaan dan Pembunuhan Paling Sadis dan Paling Tidak Adil dalam Sejarah Pengadilan Jepang

(Perhatian)Post ini mengandung konten yang memiliki Unsur Sadisme. Bagi yang tidak Kuat terhadap hal-hal Sadis diharap untuk tidak membaca Post Ini

Sebuah insiden mengerikan terjadi pada tahun 1988-1989 dan menewaskan seorang gadis Jepang berumur 16 tahun bernama Furuta Junko (古田順子) setelah mengalami penyekapan, pemerkosaan, dan penyiksaan yang sangat berat selama 44 hari. Insiden tersebut dikenal dengan nama Kasus Pembunuhan Gadis SMA yang Dibungkus Beton (女子高生コンクリート詰め殺人事件 Joshikousei konkuriito-zume satsujinjiken). Ini merupakan kasus pembunuhan sadis yang sangat terkenal oleh ketidakadilannya di Negeri Sakura Jepang.

Ceritanya, pada tanggal 25 November 1988, empat laki-laki, yaitu anak laki-laki A yang berumur 18, anak laki-laki B bernama Jo Kamisaku yang waktu itu berumur 17 (Kamisaku adalah nama keluarga barunya yang dia pakai setelah dibebaskan dari penjara), anak laki-laki C berumur 16, dan anak laki-laki D berumur 17, menculik dan menyekap Furuta, seorang murid kelas tiga SMA (kelas XII) dari Misato, Prefektur Saitama, selama 44 hari. Mereka menjadikannya tahanan di rumah yang dimiliki orang tua dari anak laki-laki C, berlokasi di distrik Ayase di Adachi, Tokyo.

Untuk menghindari pengejaran polisi, salah satu dari mereka memaksa Furuta untuk menelepon orang tuanya dan menyuruhnya memberi tahu bahwa dia telah kabur dari rumah, dengan “seorang temannya”, dan dia baik-baik saja. Bahkan dia menggertak Furuta agar berlagak sebagai pacar dari salah satu dari mereka ketika orangtua anak laki−laki C, sang pemilik rumah, sedang berada di rumah tersebut. Ketika mereka sudah yakin orang tua C itu tidak akan telepon polisi, mereka pun menyudahi sandiwara tersebut. Furuta telah mencoba kabur berkali-kali, lalu memohon pada orang tua anak laki-laki C untuk menyelamatkannya, tetapi mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa meskipun mereka mengetahui jika selama ini Furuta disiksa. Rupanya mereka takut kepada anak laki-laki A yang mungkin akan menyiksa mereka. Anak laki-laki A saat itu merupakan pemimpin yakuza kelas rendah, dia telah mengancam bahwa dia bisa membunuh siapapun yang bermaksud turut campur.

Menurut kesaksian mereka di persidangan, mereka berempat telah memerkosa Furuta, memukulinya, memukulnya dengan balok besi dan tongkat golf, memasukan berbagai macam ke dalam vaginanya termasuk lampu bohlam, memaksanya untuk makan kecoa dan minum air kencingnya sendiri, memasukan petasan ke dalam anusnya lalu meledakkannya, memaksa Furuta untuk bermasturbasi, memotong puting susunya dengan tang, menjatuhkan barbel ke perutnya, dan membakarnya dengan rokok dan korek api. Salah satu dari tindak pembakaran itu merupakan “hukuman” karena Furuta berusaha melapor ke polisi.

Pada suatu waktu, Furuta mengalami luka yang teramat parah sehingga, menurut salah satu dari mereka, anak perempuan itu sampai membutuhkan waktu satu jam lebih untuk merangkak turun tangga untuk menggunakan kamar mandi. Mereka juga mengatakan bahwa “mungkin sudah terdapat 100 orang” yang mengetahui bahwa mereka menahan Furuta di rumah tersebut, tapi belum jelas apakah ini berarti 100 orang tersebut mengunjungi rumah itu berkali-kali sementara Furuta disekap di sana, atau mereka sendiri ikut memperkosa Furuta (dengan total kira-kira 1000 kali) atau menyiksa dia. Saat para anak laki−laki itu menolak melepaskan Furuta, Furuta seringkali memohon pada mereka “untuk membunuhnya saja dan menyudahi penderitaan tersebut.”

Pada tanggal 4 Januari 1989, dengan menggunakan alasan kalah saat bermain mahyong, keempat anak laki-laki itu memukuli Furuta dengan barbel besi, menuang cairan korek api ke kaki, tangan, perut, dan wajahnya, lalu membakar Furuta hidup-hidup. Tak lama kemudian Furuta meninggal pada hari itu karena mengalami syok. Keempat anak laki-laki itu mengklaim bahwa mereka tidak sadar betapa parah luka yang dialami Furuta, dan mereka percaya jika Furuta hanya berpura-pura mati.

Pada 5 Januari, para pembunuh itu menyembunyikan mayat Furuta di dalam sebuah drum 55 galon dan mengisinya dengan semen—agar mayatnya tidak ditemukan. Mereka lantas membuang drum tersebut di sebidang tanah reklamasi di Koto, Tokyo.

Ketika kejahatan mereka terbongkar, keempat anak laki-laki biadab itu pun akhirnya ditahan dan diadili sebagai orang dewasa, tetapi karena Jepang memiliki aturan penanganan khusus terhadap kejahatan anak-anak di bawah umur, identitas mereka pun disembunyikan dalam persidangan.

Namun, majalah mingguan Shuukan Bunshun dengan jelas memublikasikan nama asli mereka, dan menyatakan bahwa “hak asasi tidak dibutuhkan bagi para penjahat biadab.” Mereka juga memublikasikan nama asli Furuta dan detail mengenai kehidupan pribadinya secara mendalam di mass media. Kamisaku dituntut sebagai seorang pimpinan keempat anak laki-laki itu, setidaknya—entah benar atau tidaknya—menurut pihak persidangan.

Keempat anak laki-laki itu mengaku bersaah sehingga diberi keringanan tuntutan “membuat luka fisik yang menyebabkan kematian”, bukannya tuntutan pembunuhan. Orang tua anak laki-laki A lalu menjual rumah mereka dengan harga sekitar 50 juta yen (sekitar 5 M rupiah) lalu membayarkannya sebagai kompensasi bagi keluarga Furuta. Karena keikutsertaannya dalam kejahatan tersebut, Kamisaku harus menjalani delapan tahun kurungan di penjara anak-anak sebelum dia dibebaskan pada bulan Agustus 1999. Sekedar tambahan, pada bulan Juli 2004, Kamisaku kembali ditangkap karena mencelakai seorang kenalannya, yang Kamisaku anggap dia telah membuat pacarnya menjauh, karena dia mendengar orang itu membocorkan tentang kejahatan masa lalunya. Kamisaku pun dihukum tujuh tahun penjara dengan tuntutan memukuli.

Orangtua Furuta Junko terkejut dengan putusan yang diterima dari para pembunuh anak perempuannya itu. Mereka melakukan gugatan hukum terhadap orang tua anak laki−laki yang rumahnya dijadikan tempat penyekapan. Ketika beberapa tuduhan ditarik karena bukti fisik yang meragukan (yaitu air mani dan rambut kemaluan yang ditemukan dari jenazah Furuta tidak cocok dengan milik keempat anak laki-laki yang tertangkap), pengacara yang menangani gugatan hukum memutuskan bahwa tidak ada dakwaan lagi yang harus dijatuhkan dan menolak tidak membantu mereka lebih jauh lagi karena merasa tidak memiliki bukti cukup.

Pada bulan Juli 1990 pengadilan rendah menjatuhkan hukuman kepada Kamisaku dari keempat anak laki-laki itu dengan hukuman maksimal 17 tahun penjara. Pengadilan menjatuhkan hukuman kepada para anak buahnya masing-masing selama empat hingga enam tahun penjara, tiga hingga empat tahun penjara, dan sisanya lima hingga sepuluh tahun penjara dengan batas waktu yang tidak tentu. Sang pemimpin, Kamisaku, dan dua anak buahnya yang pertama mengajukan naik banding atas dakwaan tersebut. Namun pengadilan tinggi memberikan hukuman lebih berat kepada tiga pihak tersebut. Hakim yang menangani pengadilan ini, Ryuji Yanase, mengatakan bahwa majelis pengadilan melakukan itu karena dasar kejahatan mereka, dampak terhadap keluarga korban, dan pengaruh tindak kriminal tersebut bagi masyarakat. Sang pemimpin akhirnya menerima hukuman 20 tahun penjara, hukuman paling tinggi kedua yang memungkinkan setelah hukuman seumur hidup. Dari dua anak buah Kamisaku yang mengajukan naik banding, salah satunya yang tadinya mendapat hukuman empat hingga enam tahun penjara akhirnya dijatuhi hukuman lima hingga sembilan tahun penjara. Sedangkan yang satu lagi akhirnya dijatuhi hukuman lima hingga tujuh tahun penjara.

Namun, yang paling menggangu dari kisah nyata ini adalah bahwa para pembunuh Furuta saat ini telah menghirup udara bebas setelah membuat Furuta Junko mengalami berbagai penderitaan yang menyakitkan.

Kasus ini menarik perhatian seluruh masyarakat Jepang pada penjatuhan hukuman dan rehabilitasi atas narapidana anak-anak, khususnya dalam konteks remaja yang diadili sebagai orang dewasa, dan menjadi sebuah sensasi di mass media. Setidaknya telah terbit dua buku yang mengisahkan kasus besar
ini.

Sebuah film eksploitatif yang mengupas kasus ini, Joshikousei
Konkuriito-zume Satsujin Jiken (女子高生コンクリート詰め殺人事件 Kasus Pembunuhan Gadis SMA yang Dibungkus Beton), dirilis oleh sutradara Katsuya Matsumura pada tahun 1995. Film lain, Concrete (コンクリート, Beton) atau Schoolgirl in Cement (Gadis Sekolah dalam Beton), yang disutradarai Hiromu Nakamura, dibuat pada tahun 2004 dan berdasarkan salah satu buku yang ditulismengenai insiden mengerikan ini.

Pada tahun 2006, Visual Kei atau rock band Jepang, the GazettE, meliris sebuah lagu dalam album mereka NIL, berjudul “Taion” (Suhu Tubuh), lagu tersebut didedikasikan untuk mengenang Furuta Junko.

True Modern Stories of the Bizarre karya Waita Uziga memasukkan kisah: Gadis Sekolah dalam Beton, yang berdasarkan kasus pembunuuhan Furuta Junko.

Dan di bawah ini merupakan hal-hal mengerikan yang dilakukan terhadap Furuta Junko sesuai data yang berhasil dikumpulkan dari persidangan dan kesaksian dari berbagai blog di Jepang. Semua yang ditulis menunjukan bahwa rasa sakit yang dialami Furuta Junko harus dialami bertubi-tubi sewaktu dia masih hidup—sebelum akhirnya dia tewas mengenaskan. Memang sangat mengganggu tapi inilah kenyataannya. Berikut rinciannya:

22-30 November 1988 (Hari 1-10) Diculik, dikurung sebagai tahanan di dalam rumah, dipaksa berlagak sebagai pacar salah satu dari keempat laki-laki itu, diperkosa (dengan total lebih dari 400 kali), dipaksa menelepon orangtuanya dan mengatakan bahwa dia kabur dan dalam keadaan baik-baik saja, kelaparan hingga kekurangan gizi,
dipaksa memakan kecoa dan meminum air kencingnya, dipaksa masturbasi, dipaksa bergoyang striptease di depan banyak orang, dibakar dengan korek api, dimasukkan berbagai macam barang ke dalam vagina dan anusnya.

1-9 Desember 1988 (Hari 11-19)
Menderita luka karena pukulan keras yang tak terhitung berapa kali, wajah terluka karena jatuh dari tempat tinggi ke permukaan keras, tangannya diikat ke langit-langit dan badannya digunakan sebagai samsak untuk latihan tinju, dari hidungnya mengalir sangat banyak darah sehingga dia hanya bisa bernafas lewat mulut, dijatuhi barbel ke atas perutnya, muntah darah ketika minum air—lambungnya sudah tidak dapat menerima air, mencoba kabur namun ketahuan sehingga dihukum dengan sundutan rokok di tangan, dituangkan cairan bensin ke telapak kaki, betis hingga pahanya dibakar, anusnya dimasuki botol hingga menyebabkan luka.

10-19 Desember 1988 (Hari 20-29)
Tidak dapat jalan normal karena luka bakar yang diderita di kaki, dipukuli dengan tongkat bambu, anusnya dimasukkan petasan lalu disulut hingga meledak, tangannya dipenyet (dipukul supaya gepeng) dengan sesuatu yang berat hingg kukunya pecah, dipukuli dengan balok besi dan tongkat golf, vaginanya dimasuki rokok—untuk dijadikan “asbak”, disuruh tidur di balkon di saat udara minus dan langit bersalju, dimasukkan tusuk sate ke dalam vagina dan anusnya sehingga menyebabkan pendarahan parah.

20-29 Desember 1988 (Hari 30-39)
Diteteskan cairan lilin panas ke wajahnya, lapisan matanya dibakar dengan korek api, dadanya ditusuk tusuk dengan jarum, putting susu sebelah kirinya dihancurkan dan dipotong dengan tang, dimasukkan bohlam panas ke dalam vaginanya, mengalami luka berat dalam vaginanya karena dimasukkan gunting, tidak bisa buang air kecil dengan normal, mengalami luka yang sangat parah hingga membutuhkan waktu satu jam hanya untuk merangkak turun tangga menuju kamar mandi, gendang telinganya menjadi rusak parah, ukuran otak menciut sangat sangat banyak.

30 Desember 1988 (Hari 40)
Memohon sama para penyiksanya itu agar membunuhnya saja dan menyelesaikan penderitaannya.

1 Januari 1989 (Hari 41)
Merayakan tahun baru sendiri karena tubuhnya telah dimutilasi sehingga tidak dapat bangun dari lantai.

4 Januari 1989 (Hari 44)
Badannya yang telah termutilasi disiksa dengan barbel besi denagn alasan karena mereka mengalami kekalahan dalam main mahyong, mengalami pendarahan parah di hidung dan mulut, mukanya dan matanya disiram dengan cairan lilin yang dibakar, dituangkan cairan korek api ke kaki tangan wajah dan perutnya, tubuhnya dibakar hidup−hidup—penyiksaan terakhir
ini berlangsung sekitar dua jam tanpa henti.

Lirik lagu Taion yang dibuat the gazette untuk junko furuta " Taion ", lyrics by the GazettE [ Indonesian translation ]
Lyrics : Ruki
arranged : the GazettE
Album : NIL
Year : 2006

A wintry sky and the broken streetlight cold wind
---langit musim dingin dan lampu jalan yang rusak, angin yang dingin

Unknown shadow the footprint of desertion freedom was taken
---bayangan tak dikenal, jejak kaki pengkhianatan, kebebasan telah direnggut

(An understanding is Impossible [8x])
---sebuah pengertian adalah mustahil

If it wakes up a gloomy ceiling
---jika itu membangunkan sebuah langit langit suram

A laughing voice sinks in the eardrum
---suara tawa tenggelam dalam gendang telinga

It is soiled and violence, rapes me, rapes me, rapes me..
---itu dikotori dan kekejaman memperkosaku, memperkosaku, memperkosaku

(An understanding is impossible [8x])
---sebuah pengertian adalah mustahil

And understanding is impossible why was i choosen? Someone should answer
---dan pengertian adalah mustahil, mengapa aku dipilih? Seseorang seharusnya menjawab

*Douka hidoi yume da to kotaete hoshii~
---entah bagaimana mimpi ini begitu kejam. Aku ingin jawaban

Doredake sakebi modae kurushimeba ii~
---berapa lama teriakan sekarat ini menyiksaku

Douka hidoi yume da to oshiete hoshii~
---entah bagaimana mimpi ini begitu kejam, aku ingin kau mengatakan

Chigiresou na koe de nando mo sakenda~
---suaraku disobek sobek berapa lamapun aku berteriak

There is no hand of preparing of the disordered hair
---tak ada persiapan tangan pada rambut yang berantakan

A laughing voice sinks in the eardrum
---suara tawa tenggelam dalam gendang telinga

A faint temperature is mixed in midwinter
---suhu yang lemah dicampur dalam pertengahan musim dingin

Koe o koroshite karesou na jibun ni ii kikaseteita
---membunuh suaraku menjadi serak, sendiri aku bisa mendengarnya

Ikiru koto o miushinawanu you~
---seakan kehilangan pandangan tentang hidup

Koe o koroshite furueta yoru wa itami ni oborete yuku
---membunuh suaraku, gemetar tenggelam dalam malam rasa sakit

Togiresou na iki o yurushite (back to *)
---ijinkanlah nafasku istirahat

Saigo ni mou ichido dake waratte mitai~
---hanya sekali saja aku ingin tertawa untuk yang terakhir kali

−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−

source: FP Kehidupan di Jepang